Saturday, November 03, 2007

social climber
social creeper
each has certain differences
i'll tell you later
but for now
i can tell you only that
I HATE THOSE WHO FAKE THEMSELVES, THE IMPOSTOR
I HATE THOSE WHO TRIED SO HARD TO BE ON TOP OF THE PYRAMYD, THAT THEY SACRIFICE THEIR FRIENDS.


merci,
Adieu.

Thursday, July 05, 2007

SEKALI DANGKAL TETAP DANGKAL

sampai mati...
dan aku tidak peduli...

Orang-orang yang 'tampaknya' cukup 'metal' ternyata sama saja dengan orang kebanyakan.
Laki-laki pula!
Makhluk yang sepertinya lebih mengutamakan rasio daripada perasaan.
Ternyata mereka bisa disamaratakan dengan mudah.
Se-unik apapun mereka, tetap aja mempunyai pandangan tentang perempuan yang sangat dipengaruhi patriarki.

Apa salahnya aku perempuan perokok?
Apa salahnya aku perempuan pemabuk?
Salah tidaknya hanya karena konstruksi masyarakat dari zaman ke zaman.

Hanya dari first look tingkah ku ketika mabuk--yang kebetulan saat itu sedang terkena euphoria berakhirnya UAS--mereka menjudge aku seketika itu juga.
Terserah.
Persetan.
Aku tetap profesional.
Tanya apakah kinerjaku amburadul?
Nope.
Aku perempuan profesional.
Aku pekerja profesional.
Coba lihat kinerja partnerku?
Kenapa dia tidak dicaci?
Karena dia pendiam?
Karena dia tidak merokok?
Karena dia bukan peminum?
karena dia berPENIS?

Aku tidak pernah merasa keberatan dengan tingkah laku anak-anak pasar seni yang lain.
Selama mereka tetap bekerja dengan baik.
Mereka juga pemabuk.
Mereka juga suka membuat kericuhan ketika sedang mabuk.
Apa aku pernah protes?
Tidak pernah sekali pun.

Kenapa harus aku yang menyenangkan hati mereka?
Apa mereka juga akan merasa bersalah dan berusaha memperbaiki keadaan kalau aku merasa tidak suka dengan tingkah laku mereka?
Nggak kan?
Adanya mereka merasa keluhanku konyol dan tidak masuk akal.
Sama.
Aku juga merasa keluhan mereka konyol dan tidak masuk akal.

DI MANA SIH OTAK MEREKA??
J'EN AI ASSEZ!



>iCiX< -dilecuti patriarki-

Tuesday, July 03, 2007

Aku dan Kehidupan Seksualku




Kenapa?
Selalu muncul kata tanya ini.
Apalagi ketika menyangkut citra diriku,
refleksiku, di mata masyarakat.

Kenapa Seksualitasku yang harus muncul ke permukaan pertama kali pada setiap kali pencitraan diriku mulai dibangun di pandangan orang?
Bagi kebanyakan perempuan, itu merupakan suatu berkah kehidupan.
Buat diriku sendiri juga sebenarnya.

Tapi.
Apa tidak terasa lelah apabila setiap kali citra dibangun, bersamaan dengan itu pula gambaran yang seksual ikut muncul ke permukaan?
Terkadang kita ingin dipandang sebagai makhluk yang paling tinggi hakikatnya (katanya) dibanding makhluk ciptaan Tuhan lainnya?
Sedangkan yang membedakan kita--manusia--dari hewan adalah budi pekertinya?
Sedangkan hewan hanya menuruti nafsunya?
Dan digambarkan dengan ciri yang dekat dengan hewan...
Capek bukan?

Aku tidak pernah meminta dilahirkan dengan daya pikat seksual sedemikian rupa sehingga mampu menarik bahkan gajah ke intisari bungaku?
Jadi jangan salahkan aku kalau aku mempergunakan berkah karunia ilahi tersebut untuk mempermudah jalanku.
Aku TIDAK PERNAH meminta dicitrakan seperti itu.
Aku sudah bosan dan capek mengubah persepsi orang tentang gambaran diriku.
Toh itu semua salah kalian yang mem-prejudice aku hanya dengan first look yang kalian tangkap dari auraku yang memancar keluar.
Aku sudah dilabeli.
Dilabeli oleh masyarakat dengan pikiran yang telah terkonstruksi oleh zaman.
I AM SEXUALLY APPEALING.




iCiX
-didera cambuk perspektif-

Monday, January 08, 2007

Kita (sang Mahasiswa), Manusia yang Terjebak dalam Perbudakan Pasca Globalisasi



institusi pendidikan mulai menggerogoti akal sehat bangsa...

Bisakah kita, manusia modern ini, hidup tanpa sebuah pengakuan di atas kerja?
Sebuah pengakuan yang dilegitimasi oleh lembaga yang sendi-sendinya diawali dari approval kita sendiri?
Tampaknya manusia lebih mendengarkan sang superego yang berbicara ketimbang ID-nya sendiri.
Berangkat dari teori Sigmund Freud, seharusnya ID mengalahkan kebutuhan ego dan superego.

Apa iya, sebuah pengakuan di atas kertas sebegitu pentingnya? (merujuk pada post saya sebelumnya).
Manusia diukur melalui indeks di atas selembar kertas. Kedengaran tidak rasional. Tapi realitanya menunjukkan hal sebaliknya.
Persetan dengan birokrasi!
Saya tidak mau menjadi bagian dari sistem tersebut. Sistem yang awal mulanya diciptakan oleh sebuah paham yang sangat eksploitatif.
Bicara tentang KAPITALISME
Nasib saya sungguh ironis. Kronologinya bermula dari sebuah tugas UAS. Betapa saya benci dengan para kapitalis. Namun saya tetap ikut dalam pasar yang mereka ciptakan. Apa yang saya kejar, hingga saya mau ikut bermain dalam permainan kotor ini?
Jawabannya mudah, saya powerless. Much much powerless. Kekuasaan yang saya cari harus ditelusuri melalui jalur yang diciptakan oleh predator-predato tadi. Apa ini bukan kanibalisme namanya? Yang dimangsa mental manusia.
Lantas apa yang sedang saya lakukan sekarang ini? Terjebak dalam rantai makanan yang tak berujung.
Tak apa. Toh mencoba bersikap kritis tidak ada salahnya. Setidaknya saya sudah mencoba untuk being aware. Walaupun ini merupakan justifikasi terhadap perilaku saya.
Tipikal self-defense dari yang putus asa.
peace,
iCiX
>di pagi hari menyongsong ujian lisan P.IPOL
setelah semalaman menyusun paper<
terimakasih saya ucapkan pada dosen wali saya, anda membangkitkan social aware saya.
Merci Beaucoup.

Sunday, January 07, 2007


MAHALNYA HARGA SEBUAH PENGALAMAN
Ketika semua mendadak berjalan secara riil,
Kita, orang-orang yang hidup di zaman modern ini, korban birokrasi ini, harus membayar mahal sebuah nilai tambah, sepenggal tambahan kalimat dalam Curriculum Vitae kita,
"PENGALAMAN KERJA"
Betapa mahal ternyata harga dua kata tersebut. Yang saya maksud mahal di sini bukan hanya dari aspek materi saja. Tapi lebih kepada seluruh daya kapasitas kita.
Ya, kesehatan mental saya jadi terganggu. Saya sebagai seorang mahasiswa Jogja, seorang pelajar dengan pola hidup yang kata orang sekarang adalah rock n roll, namun sesungguhnya lebih tepat kita sebut menggembel (justifikasi, selalu kita temukan di mana-mana), keletihan mencoba meraih cita-citanya sesuai dengan tuntutan pasar.
Saya bahkan rela untuk bekerja secara gratis. Mengapa?
Yang penting pengalaman. Resume.
Tak apa. Toh dalam dunia yang saya tinggali sekarang ini, hal tersebut m emang harus saya jalani. Sejak dulu saya tahu bahwa pengalaman memang mahal harganya, bahkan lebih mahal daripada ongkos kuliah saya. Namun saya tidak menyadari, bahwa ternyata harganya semahal ini.
Dunia saya jungkir balik. Kepala saya pun jungkir balik. Idealisme terombang-ambing. Rutinitas berubah. Saya sudah tidak bisa lagi menikmati istirahat malam saya. Jam tubuh saya berubah total. Insomnia. Mengerikan. Kepala saya dipenuhi ide-ide gila sepanjang waktu. Bagi saya ini inevitable. Tidak dapat dihindari.
Saya kelelahan. Keringat yang keluar bukan lagi sisa-sisa transpirasi tubuh saya, melainkan darah. Bukan dalam arti tersurat. Tapi saya seperti merasakan efek nyatanya.
Lelah bukan KEPARAT
Tapi apakah semua ini worth the pain? Apakah semua ini pada akhirnya akan berjalan beriringan mengantarkan saya menuju sebuah titik tertentu? Apakah ini hanya omong-kosong saya belaka, dan pada akhirnya hanya kemampuan yang menentukan? Apakah saya mempunyai bargaining position yang lebih baik daripada kompetitor-kompetitor saya?
Well, that's an experience. Dia memang selalu memasang harga tinggi. Bahkan untuk mempublikasikan tulisan ini, harus menuntut saya mengeluarkan beaya internet.
Au Revoir,
Don't get sick cuz it sucks
Love you all godong waru,
iCiX-temanmu.
>yang sedang kalut dalam proses pembuatan paper UAS<

Saturday, October 21, 2006

aku bete...
Seminar Uni Eropa tanggal 6-7 Desember sama sekali nggak kredibel.
Ini tuh sama sekali nggak masuk di akal. Gimana mungkin Vacanciesnya udah ditutup?? Lha wong di notificationnya nggak ada deadlinenya yang jelas kok. Kan cuma ditulis a.s.a.p. dan sebelum november, karena november ada interview lebih lanjut. Eh tanpa babibu, applicationku langsung ditolak cuz "unfortunately the vacancies have been closed", kata si surjo ganesha. Well, fortunately, aku nggak jadi kerja bareng kalian, pihak yang sejak awal hanya menuntut keprofesionalan para aplikan, tanpa menjaga keprofesionalan mereka sendiri.
"Haloo...Siapa lo di mata gue?? Pede Dahsyat!!"

warm regards too, gherken birocrates!!


(no) peace (this time),
iCiX_RocKs

Thursday, October 19, 2006

first impression

hi!
finally...my new electronic journal...
yahh...
happy reading...
may you all like it...
mmm...
you know what??
actually i don't care whether you like it or not...
IT'S MY THOUGHT. that's all that matters.
so suit yourselves...
and...
happy reading!!
peace,
iCiX_RocKs